Ejaan bahasa Indonesia mengalami perubahan dalam kurun waktu
114 tahun, yakni dari tahun 1901 sampai dengan tahun 2015. Pada
tahun 1901 merupakan tonggak awal pembaruan ejaan dalam bahasa
Melayu (bahasa Indonesia). Pembaharuan ejaan tersebut sebagai imbas
gerakan pembaruan ejaan yang telah dilakukan lebih dari 31 bahasa
modern sejak awal abad ke-19. Pembaruan ejaan (spelling reform) adalah
tindakan untuk memperbaiki sistem ejaan dengan membuatnya lebih
menggambarkan fonem yang ada dalam suatu bahasa. Pembaruan
ejaan sangat penting karena ejaan merupakan salah satu kaidah bahasa,
terutama dalam bahasa tulis, yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa
demi keteraturan dan keseragaman bentuk. Keteraturan tersebut akan
berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna.
Sejarah ejaan bahasa Indonesia diawali dengan ditetapkannya Ejaan
van Ophuijsen. Ejaan ini dengan menggunakan huruf Latin dan sistem
ejaan bahasa Belanda yang rancang oleh Charles A. van Ophuijsen.
Dalam pelaksanaannya, Ch. van Ophuijsen mendapat bantuan dari
Engku Nawawi dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Dengan adanya
perubahan pada sisem ejaan, maka ejaan bahasa Melayu yang pada
awalnya menggunakan aksara Arab Melayu (abjad Jawi) berubah
menjadi aksara Latin.
Sebelum kemerdekaan, ejaan yang diberlakukan adalah Ejaan van
Ophuijsen yang diresmikan pada 190. Ejaan ini berlaku sampai dengan
tahun 1947. Setelah kemerdekaan, bahasa Indonesia mengalami enam
kali perubahan ejaan, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (1947−1956),
Ejaan Pembaharuan (1956−1961), Ejaan Melindo (1961−1967), Ejaan
Baru/Lembaga Bahasa dan Kasusastraan (LBK) (1967−1972), Ejaan
yang Disempurnakan (EYD) (1972−2015), dan Ejaan Bahasa Indonesia
(EBI) (2015 sampai sekarang).
PERUBAHAN EJAAN
Perubahan ejaan bahasa Indonesia ini dilatarbelakangi oleh
dampak kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang telah
menyebabkan penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai ranah
pemakaian, baik secara tulis maupun tulisan, menjadi semakin luas.
Di samping itu, perubahan ejaan bahasa Indonesia diperlukan karena
untuk memantapkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara
juga menjadi alasan dilakukannya perubahan (Karyati, 2016: 175).
Ejaan van Ophuijsen (1901–1947)
Aksara Arab Melayu dipakai secara umum di daerah Melayu dan daerah-daerah yang telah menggunakan bahasa Melayu. Akan tetapi, karena terjadi kontak budaya dengan dunia Barat, sebagai akibat dari kedatangan orang Barat dalam menjajah di Tanah Melayu itu, di sekolah-sekolah Melayu telah digunakan aksara Latin secara tidak terpimpin. Melihat hal tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda mulai menyadari bahasa Melayu dapat dipakai oleh pegawai pribumi untuk keperluan administrasi karena pegawai
pribumi lemah dalam penguasaan bahasa Belanda.
Huruf j
Ditulis dj
Jangan
djangan
Jarum
djaroem
Huruf c
Ditulis tj
Cara
Tjara
Cucu
tjoetjoe
Huruf kh
Ditulis ch
Ikhlas
ichlas
Ikhtiar
ichtiar
Huruf k pada akhir kata atau suku kata ditulis dengan tanda
koma di atas (‘)
Maklum
ma’loem
Rakyat
ra’yat
Ejaan Repoeblik atau Ejaan Soewandi (1947–1956)
Keinginan untuk menyempurnakan Ejaan van Ophuijsen dibicarakan dalam Kongres Bahasa Indonesia I, tahun 1938 di Solo.
Hasil Kongres menyebutkan bahwa Ejaan van Ophuijsen untuk sementara waktu masih dapat digunakan, tetapi karena mengingat kehematan dan kesederhanaan, perlu dipikirkan perubahannya (Muslich, 2010:160). Sembilan tahun kemudian, harapan Kongres Bahasa Indonesia tersebut baru terwujud, yakni dengan adanya Putusan Menteri Pengadjaran Pendidikan dan Kebudajaan pada 15 April 1947 tentang perubahan ejaan baru. Perubahan ejaan baru tersebut tertuang dalam surat keputusan dengan No. 264/Bhg. A/47 yang berisi perubahan ejaan bahasa Indonesia agar lebih sederhana. Ejaan baru ini dikenal dengan nama Ejaan Soewandi yang diresmikan pada 19 Maret 1947. Berikut adalah perubahan dalam Ejaan Soewandi.
Soewandi
Pasal
Edjaan van
Ophuijsen
Edjaan
Soewandi
Keterangan
1
a
A
ha, an, nah, Ahmad, hawa, naskah
2
i
ai
hai, air, kail, pakai, pakian, mulai disukai,
mengenai
Dalam kata-kata mulai, disukai, mengenai
(mula, suka, kena, dengan achiran i) tak oesah
dinjatakan titik doea diatas hoeroef i
3
au
au
kau, engkau, tembakau, gurau, lampau.
Berhoeboeng dengan pasal 19 au djoega akan dipakai oentoek menggantikan aoe, misalnja,kaum, laut, saur, pauh, amu, bau (titik dua diatas u ta’ dipakai, seperti pada i djoega; lihat pasal 2)
4
B
B
batoe, baboe, sebab, nasib, lembab
5
D
D
di, dik, dari, ahad, tekad, Ahmad
Ejaan Pembaharuan (1956–1961)
Pada tahun 1954 diadakan Kongres Bahasa Indonesia II di
Medan. Kongres ini diprakarsai oleh Menteri Moehammad Yamin.
Kongres ini membicarakan perubahan sistem ejaan. Beberapa
keputusan Kongres adalah
(1) ejaan menggambarkan satu fonem
dengan satu huruf,
(2) ejaan ditetapkan oleh badan yang kompeten,dan
(3) ejaan tersebut hendaknya praktis dan ilmiah. Oleh karena itu,Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan mengeluarkan
surat keputusan pada 19 Juli 1956 bernomor 44876/S tentang pembentukan panitia perumus ejaan baru. Panitia ini diketuai oleh
Priyono-Katoppo. Setelah bekerja selama setahun, Badan yang dibentuk oleh Menteri berhasil merumuskan patokan-patokan baru pada tahun 1957. Patokan-patokan tersebut terumus dalam Ejaan Pembaharuan.
Ejaan Pembaharuan dimaksudkan untuk menyempurnakan ejaan Soewandi. Ejaan Pembaharuan membuat pedoman satu fonem dengan satu huruf. Misalnya, kata menyanyi dalam ejaan Soewandi ditulis menjanji menjadi meñañi dalam ejaan Pembaharuan. Selain itu, berdiftong ai, au, dan oi diucapkan menjadi ay, aw, dan oy.
Misalnya, kerbau menjadi kerbaw, sungai menjadi sungay dan koboi menjadi koboy. Namun sayangnya, ejaan ini tidak jadi diresmikan sehingga belum pernah diberlakukan. Perubahan ejaan itu tampak
pada tabel di bawah ini
Gabungan konsonan
Menjadi
1. dj
j
2. tj
ts
3. ng
ŋ
4. nj
ń
5. sj
š
Pada tabel di atas terlihat penyederhanaan ejaan, yakni huruf yang berupa gabungan konsonan disederhanakan menjadi satu
huruf tunggal. Namun, sistem Ejaan Pembaharuan memiliki kelemahan, yakni sulitnya menulis huruf ŋ, ń, dan š bila menulis menggunakan mesin ketik karena pada mesin ketik tidak ada tuts huruf ŋ, ń, dan š. Oleh karena itu, sistem ejaan tersebut sangat menyulitkan bagi penggunanya.
Pertanyaan
1.Apa manfaat mempelajari ejaan?
2.Motivasi anda mengetahui sejarah Ejaan ?
3.Apa manfaat mempelajari sejarah Ejaan?
4.Seberapa penting materi ini bagi anda sertakan alasannya?
Jawaban
1.Karena dengan mempelajari ejaan kita dapat memperbaiki pembakuan tata bahasa yang kita gunakan sehari hari.
2.Motivasi saya mengetahui sejarah ejaan ialah karna saya ingin mengetahui lebih jelasnya mengenai ejaan bahasa itu berasal.
3.Karena dengan mempelajari ejaan ini kita dapat memperbaiki tatanan bahasa yang kita gunakan sehari hari, Sekaligus kita dapat melestarikan dan membudidayakan bahasa yang kita gunakan sehari hari selama masih ada dinegara Indonesia.
4.Menurut saya mempelajari ejaan bahasa ini cukup penting sebab,sistem ejaan pada bahasa Indonesia untuk mempertegas atau menyamakan bahasa yang digunakan. Dari sistem ejaan juga penting untuk mengatur penggunaan bahasa dan peraturan berbahasa Indonesia.
DlAFTAR PUSTAKA
Winarto, Yunita T., Totok Suhardiyanto, dan Ezra M. Choesin. 2016.Karya Tulis Ilmiah Sosial: Menyiapkan, Menulis, dan Mencermatinya.
Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Mulyadi, Yadi. 2017. Ejaan Bahasa Indonesia.
Bandung: Yrama Widya.
van Ophuijsen, Ch. A. 1983. Tata Bahasa Melayu. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Baguss,isi blognya dapat di pahami
BalasHapusBlognya sangat bagus untuk dibaca
BalasHapusWah sangat bermanfaat
BalasHapusBgussss
BalasHapusHasilnya bagus terus tingkatkan ya
BalasHapusMantb nis
BalasHapusKeren nih
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusBagus sekali
BalasHapusKereeeen
BalasHapusKeyen
BalasHapus